Latihan 1

Teks latihan 19 Oktober – 14 November 2015. Untuk berlatih, silakan terjemahkan teks ini dan setelah selesai, bandingkan dengan ulasan yang telah ditayangkan.

“Councillor, it is a very great honour to see you again,” said Lin Kuo. He had a light, pleasant voice.

“The honour is surely mine,” Wen Gao said formally, “that you grace a sad exile’s home with your esteemed presence. And bringing… ?“

“My daughter, councillor. Her name is Shan. I have long wished to show her the Peony Festival, and have presumed to bring her with me to meet your excellence.”

“No presumption at all. You are welcome, child.” He smiled this time.

She didn’t smile back; a watchful face. “It is a privilege for me, sir, to be in the presence of the man instrumental in elevating the status of written songs in our time. I have read your essay on the ci form, with profit and illumination.”

Xi Wengao blinked. This is a good thing, he told himself again. Something to be cherished. That life could still surprise you.

Even from a man, the words would have been assured, a supremely confident thing to say as a first remark. This was, of course, a girl. A young woman, obviously unmarried, a peony in her hair, another in her hand, and she stood in his garden, specifying that among all he’d done…

He sat down, motioned Lin Kuo to a chair. The tall man sat with another bow. The daughter remained standing, moving a little behind him. Wengao looked at her. “I will confess that essay is not what I normally expect to be saluted for.”

Lin Kuo laughed, indulgently. “She writes ci herself, councillor. I suspect she has wanted to say this to you for some time.”

248 kata, diambil dari River of Stars, Guy Gavriel Kay.

18 thoughts on “Latihan 1

  1. “Tuan Penasihat, sungguh suatu kehormatan bisa bertemu Anda lagi,” ujar Lin Kuo. Suaranya terdengar ringan dan merdu.

    “Sayalah yang merasa terhormat,” ucap Wen Gao sopan, “karena Anda yang terpandang sudi singgah di gubuk seorang buangan yang malang. Terlebih sambil membawa…?”

    “Ini putri saya, Tuan Penasihat. Namanya Shan. Sudah lama saya ingin mengajaknya melihat-lihat Festival Bunga Peoni, dan saya telah lancang membawanya bertemu Tuan.”

    “Sama sekali tidak. Senang berjumpa denganmu, Nak.” Kali ini, Wen Gao tersenyum.

    Gadis itu tidak membalas senyum Wen Gao; raut wajahnya tegang. “Suatu kehormatan bagi saya, Tuan, bisa bertatap muka dengan orang yang berjasa meninggikan derajat nyanyian syair di zaman kita. Saya sudah membaca esai Tuan perihal bentuk puisi 'ci', tulisan yang bermanfaat dan mencerahkan."

    Xi Wengao mengedipkan mata. Ini bagus, ujarnya lagi dalam hati. Ini perlu dicamkan baik-baik. Kehidupan selalu mampu membuat kita tercengang.

    Sekalipun diucapkan oleh pria, kata-kata itu masih terdengar sangat tegas, dan sebagai ucapan perkenalan, sangat penuh percaya diri. Tentu saja, yang barusan mengucapkannya adalah seorang gadis. Seorang perempuan muda, yang jelas-jelas belum menikah, dengan sekuntum peoni tersemat di rambutnya, dan sekuntum lagi dalam genggamannya. Gadis itu berdiri di tamannya, seraya menyebutkan bahwa di antara semua yang telah diperbuat Wen Gao…

    Sang Penasihat duduk, lalu dengan isyarat ia mempersilakan Lin Kuo duduk di kursi. Setelah membungkuk hormat lagi, pria jangkung itu pun duduk. Putrinya tetap berdiri, beringsut ke belakang ayahnya. Wengao menatap gadis itu. “Harus kuakui, aku tidak menduga esai itu bisa menuai pujian.”

    Lin Kuo tertawa santun. “Ia juga menulis ‘ci’, Tuan Penasihat. Saya yakin sudah lama ia ingin mengutarakan hal ini kepada Anda.”

    Liked by 1 person

  2. “Pak Penasihat, sungguh suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda lagi.” Kata Lin Kuo. Ia memiliki suara yang ringan dan menyenangkan.

    “Justru saya yang mendapatkan kehormatan,” jawab Wen Gao sopan,“ bahwa Tuan memberkati rumah yang menyedihkan dan terasing ini dengan kehadiran Tuan yang terhormat. Serta membawa ….?”

    “Ini putriku, Penasihat. Namanya Shan. Sudah sejak lama saya ingin mengajaknya melihat Festival bunga Peony, dan dengan tanpa permisi telah membawanya menemui yang mulia.”

    “Tidak memerlukan permisi sama sekali. Selamat datang, nak.” Kali ini ia tersenyum.

    Shan tidak membalas senyuman itu. Ia memperhatikan dengan saksama. “Saya beruntung dapat bertemu dengan orang yang berperan penting mempopularkan lagu-lagu tulisan di jaman kami. Saya telah membaca esai anda mengenai bentuk ci, dengan keuntungan dan pencerahan.”

    Xi Wengao berkedip. Ini adalah hal yang baik, katanya lagi pada dirinya sendiri. Sesuatu yang harus dihargai. Bahwa hidup masih dapat mengejutkanmu.

    Bahkan bila diucapkan oleh seorang pria pun, kata-kata itu akan terdengar pernuh ketegasan. Suatu ucapan yang penuh dengan kepercayaan diri untuk disampaikan sebagai kalimat pembuka. Dan hebatnya, diucapkan oleh seorang anak perempuan. Wanita muda yang pastinya belum menikah. Dengan bunga peony di rambut dan di tangannya, ia berdiri di taman milik Wengao, menjelaskan hal itu diantara semua hal yang pernah Wengao lakukan.

    Wengao duduk serta mengisyaratkan agar Lin Kuo duduk juga. Lelaki yang tinggi itu duduk seraya membungkuk hormat. Anak gadisnya tetap berdiri, sedikit bergerak kebelakangnya. Wengao menatap pada Shan. “Harus saya akui, bahwa saya tidak terbiasa memperoleh pujian dari sebuah esai.”

    Lin Kuo tertawa ramah. “Shan sendiri juga menulis ci, Penasihat. Saya menduga ia sudah lama ingin mengatakan hal ini kepada anda.”

    Like

  3. “Tuan penasihat, suatu kehormatan bisa berjumpa dengan Anda lagi,” kata Lin Kuo. Dia memiliki suara yang ringan dan ramah.

    “Justru kehormatan bagiku,” balas Wengao dengan sopan, “kau grace rumah orang terasing yang sedih dengan kehadiranmu yang mulia. Dan dia… ?“

    “Putriku, tuan penasihat. Namanya Shan. Sudah lama aku ingin menunjukkan Festival Peony padanya, dan juga berniat mempertemukannya kepada Anda tuan.”

    Aku tidak berprasangka apapun. Kau diterima di sini, nak.” Dia tersenyum.

    Gadis itu tidak membalas senyumannya; wajah yang selalu waspada. “Suatu keistimewaan bagiku, Tuan, bisa berada di hadapan orang yang berjasa menaikkan martabat lagu-lagu yang sudah tertulis di masa kita. Aku sudah membaca esai Anda dalam bentuk ci , terdapat pelajaran dan pencerahan di dalamnya.”

    Xi Wengao berkedip. Ini hal bagus, katanya dalam hati. Sesuatu yang harus dipertahankan. Kehidupan selalu bisa mengejutkanmu.

    Bahkan dari seorang pria, kata-kata seperti itu bisa dijamin, sesuatu yang sangat percaya diri sebagai ucapan pertama. Dalam kasus ini, tentu saja, seorang gadis yang mengucapkannya. Seorang wanita muda, belum menikah, dengan sehelai bunga peony di rambutnya, dan sehelai lagi di tangannya, berdiri di taman pria itu, menentukan bahwa di antara semua yang Xi Wengao lakukan…

    Xi Wengao duduk, sambil mengisyaratkan Lin Kuo untuk duduk. Lin Kuo duduk dengan satu bungkukan lagi. Shan tetap berdiri, bergerak sedikit ke belakangnya. Wengao menatap Shan. “Aku akui bahwa esai itu bukanlah yang biasanya aku sukai.”

    Lin Kuo tertawa ramah. “Putriku menulis ci-nya sendiri, tuan penasihat. Sepertinya sudah beberapa lama dia ingin menyampaikan hal ini pada Anda.”

    Like

  4. River of Stars By Guy Gavriel Kay

    Penasehat, suatu kehormatan besar bersua dengan Tuan lagi.” Ujar Lin Kuo, seorang pria yang bersuara halus dan ramah.
    “Kehormatan itu seharusnya adalah milik hamba,” ujar Wen Gao formal. “Dengan Tuan yang menghargai rumah pengasingan kecil dengan kenanggunan dari Tuan. Dan membawa. . . ?”
    “Putri hamba, Penasehat. Namanya adalah Shan. Hamba sudah lama berharap untuk memperlihatkan padanya festival tanaman semak. Dan membawanya langsung bersama hamba untuk bertemu Yang Mulia.”
    “Tidak lancang sama sekali. Engkau dipersilahkan, Nak.” Ujar penasehat sambil tersenyum.
    Gadis itu tidak membalas senyumnya; wajah yang penuh dengan kewaspadaan. “Hal ini adalah keistimewaan bagi hamba, Tuan, untuk bertemu dengan orang yang telah berjasa menaikkan derajat penulisan syair di masa kini. Hamba telah membaca tulisan Tuan yang dalam bentuk ci—puisi Tiongkok—dengan manfaat dan penjelasannya.
    Xi Wengao berkedip. Ini adalah hal bagus, akunya lagi. Sesuatu yang harus dilestarikan. Hidup terkadang dapat mengejutkanmu.
    Bahkan dari seorang pria, terkadang kata-kata yang diucapkan terlalu berlebihan. Sanjungan yang terlalu tinggi untuk pujian pertama. Dan ini, yang sangat jelas, seorang gadis, seorang wanita muda, yang seratus persen belum menikah, satu kembang menghiasi rambutnya dan satu kembang lagi di tangannya, dan wanita itu sedang berada di kebunnya, dan memperhatikan semua hal yang telah ia lakukan.
    Wengao duduk dan mengisyaratkan pada Lin Kou untuk duduk di sebuah bangku. Si pria jangkung duduk sambil memberi hormat. Dan si anak perempuan memilih untuk berdiri, yang bergerak sedikit di belakang ayahnya.
    Wengao memperhatikan Shan. “Saya akui bahwa tulisan itu bukanlah yang biasanya yang saya banggakan.”
    Lin Kuo tertawa lembut, “Putri hamba juga menulis ci, Penasehat. Hamba percaya, kalau dia sudah lama untuk memberitahu hal ini pada Tuan.”

    Like

  5. Numpang ikut belajar ya Mbakyu…. :3

    “Tuan Penasehat, saya merasa sangat terhormat dapat berjumpa kembali dengan Anda,” kata Lin Kuo. Suara pria tersebut ringan dan menyenangkan.

    “Hambalah yang merasa terhormat,” sahut Wen-gao dengan formal, “Karena Yang Mulia bersedia datang dan menerangi kesuraman rumah seorang yang telah dibuang seperti hamba ini. Bahkan Tuan sampai membawa…?”

    “Putriku, Tuan Penasehat. Namanya Shan. Sudah lama saya ingin membawanya melihat Festival Bunga Peoni, dan saya dengan kurang ajar telah berani membawa dirinya ke sini untuk menemui Yang Mulia.”

    “Tidak kurang ajar sama sekali. Engkau sangat disambut disini, Anakku,” jawab Wengao sembari tersenyum.

    Gadis tersebut tidak balas tersenyum, wajahnya waspada. “Saya merasa sangat tersanjung, Yang Mulia, karena saya diizinkan menghadap orang yang berperan sangat penting dalam meninggikan status kidung tertulis di zaman kita ini. Saya telah membaca esai Yang Mulia mengenai kidung bentuk ci, dan saya telah mendapat banyak pengetahuan dan pencerahan darinya.”

    Xi Wen-gao mengerjap. Ini hal yang baik, katanya pada diri sendiri. Hal yang patut dihargai. Ternyata hidup masih dapat membawa kejutan baginya.

    Bahkan andaikata keluar dari mulut seorang pria sekalipun, kata-kata gadis tersebut terdengar begitu yakin – perkataan yang sedemikian percaya diri sebagai kalimat perkenalan pertama. Tapi tentunya, ini perkataan seorang gadis. Seorang wanita muda yang jelas-jelas belum menikah, setangkai bunga peoni tersemat di rambutnya dan setangkai lagi di tangannya, dan gadis itu berdiri di kebunnya, dan menyebutkan secara spesifik bahwa dari segala karya yang pernah dihasilkannya….

    Wen-gao pun duduk, sambil menyilakan Lin Kuo agar ikut mengambil kursi. Pria bertubuh jangkung tersebut pun duduk, sambil menjura kembali. Putrinya tetap berdiri, dengan memposisikan diri agak di balik ayahnya. Wen-gao menatap gadis itu. “Harus saya akui, biasanya saya tidak mengira akan dipuji karena esai yang itu.”

    Lin Kuo tertawa penuh rasa sayang. “Dia sendiri pun mengarang ci, Tuan Penasehat. Kukira sudah lama sekali ia ingin mengatakan hal itu kepada Anda.”

    Liked by 1 person

  6. Bapak anggota dewan, suatu kehormatan besar berjumpa dengan Anda lagi,” ucap Lin Kuo. Suaranya lembut dan ramah.

    “Saya merasa sangat tersanjung,” ujar Wen Gao dengan formal, “sebab kau menyemarakkan rumah orang buangan yang menyedihkan ini dengan kehadiranmu yang mulia. Dan membawa… ?”

    Anak perempuan saya, bapak anggota dewan. Namanya Shan. Sejak lama saya berharap menunjukkan Festival Peony padanya, dan telah lancang membawanya bersama saya untuk berjumpa dengan Yang Mulia.”

    “Tidak sama sekali. Silakan bergabung, nak.” Kali ini ia tersenyum.

    Gadis itu tidak membalas tersenyum. Wajahnya waspada. “Ini suatu kehormatan bagi saya, Tuan, hadir di hadapan orang yang telah mengangkat kedudukan syair tertulis pada masa kini. Saya telah membaca esai Anda dalam bentuk ci, sebagai pelajaran dan pencerahan.”

    Xi Wengao mengerjap. Ini hal yang baik, kembali ia membatin. Sesuatu yang harus dihargai. Bahwa hidup masih dapat memberi kejutan padamu.

    Kata-kata tersebut terasa meyakinkan, bahkan jika keluar dari seorang pria. Perkataan yang sangat percaya diri untuk diucapkan pada awal percakapan. Yang ini, tentunya, seorang gadis. Seorang wanita muda, jelas-jelas belum menikah, dengan sekuntum peony di rambutnya dan sekuntum lagi di tangannya. Gadis itu berdiri di tamannya, dan menyebutkan itu di antara segala yang telah diperbuatnya.

    Ia duduk, dan memberi isyarat pada Lin Kuo untuk duduk di kursi. Lelaki jangkung itu duduk disertai bungkukan lagi. Anak perempuannya tetap berdiri, seraya bergeser sedikit di belakangnya. Wengao menatap gadis itu. “Saya hendak mengaku bahwa saya tidak biasanya mendapat penghormatan karena menulis esai.”

    Lin Kuo tertawa merendah. “Ia juga menulis ci, bapak anggota dewan. Saya duga sudah sejak lama ia ingin mengatakannya pada Anda.”

    Like

  7. “Kehormatan besar bagi saya dapat bertemu Anda lagi, Konselor,” ujar Lin Kuo. Ia memiliki suara yang ringan dan menyenangkan.
    tentu kehormatan bagi saya,” ucap Wen Gao formal, “Anda sudi menyemarakkan rumah seorang pengasingan yang menyedihkan dengan kehadiran Anda yang terhormat. Dan membawa …?
    “Putriku, Konselor. Namanya Shan. Saya mempunyai keinginan sejak lama untuk menunjukkannya festival bunga Peony, serta mengajaknya bersama saya untuk menemui Anda yang mulia.”
    Tidak kuduga sebelumnya. Selamat datang, Nak.” Kali ini Ia tersenyum.

    Ia tidak membalas senyumnya; raut wajah waspada. “Suatu kehormatan bagi saya, Tuan, dapat bertemu dengan orang yang berperan dalam mengangkat status lagu tertulis pada zaman ini. Saya telah membaca esai Anda dalam bentuk ci, bermanfaat dan mencerahkan.”
    Xi Wengao berkedip. Ini hal yang bagus, ujarnya pada dirinya sendiri lagi. Sesuatu untuk dirayakan. Bahwa hidup masih bisa mengejutkanmu.
    Bahkan dari seorang laki-laki, kata-kata itu sudah pasti sangat percaya diri untuk diucapkan sebagai pernyataan awal. Ini, tentu saja, seorang perempuan. Seorang perempuan muda, sangat jelas belum menikah, sebuah bunga di rambutnya, yang lainya ada di genggamannya, dan ia berdiri di kebunnya, menyatakan hal itu diantara semua yang telah ia lakukan…

    Ia duduk, memberi isyarat pada Lin Kuo ke sebuah kursi. Pria tinggi itu duduk dengan sebelumnya membungkuk. Putrinya tetap berdiri, bergerak sedikit di belakangnya. Wengao menatapnya. “Aku akan mengaku bahwa esai bukanlah sesuatu yang biasa aku dapatkan sebagai sapaan.”

    LinKuo tertawa, dengan murah hati. “Dia sendiri menulis ci, Konselor. Saya kira dia telah lama ingin mengatakan hal ini kepada Anda.”

    Like

  8. Konselor, sungguh kehormatan yang sangat besar bisa bertemu lagi denganmu,” kata Lin Kuo. Suaranya ringan dan menyenangkan.

    Kehormatan itu memang milikku,” kata Wen Gao dengan formal, “bahwa kau mengikhlaskan pengasinganmu dengan hadir secara sukarela. Dan membawa..?”

    “Putriku, konselor. Namanya Shan. Aku sudah lama ingin memperlihatkan padanya Festival Peony, dan sudah menduga dia ikut bersamaku untuk melihat keahlian Anda.”

    “Aku tak menduganya sama sekali. Kau diterima, nak.” Dia tersenyum kali ini.

    Gadis itu tidak membalas tersenyum, wajahnya menunjukkan kewaspadaan. “Ini suatu keberuntungan bagiku, sir, berada di hadapan pria yang berhasil mengangkat keadaan dari lagu yang ditulis pada zaman kita. Aku sudah membaca karangan Anda dalam gaya ci, dengan keberuntungan dan pencahayaan.

    Xi Wengao berkedip. Ini pertanda baik, dia berkata lagi pada dirinya. Sesuatu yang diharapkan. Kehidupan itu selalu saja mengejutkanmu.

    Bahkan dari seorang pria, yang kata-katanya sudah pasti dipercaya, sesuatu yang sangat pasti untuk dikatakan sebagai kesan pertamanya. Ini adalah, tentu saja, seorang gadis. Seorang wanita muda, yang pastinya belum menikah, rambutnya yang berponi, yang lainnya dalam genggamannya , dan dia berdiri di kebun pria itu, merincikan bahwa di antara semua yang telah pria itu lakukan…

    Pria itu duduk, mengisyaratkan kepada Lin Kuo ke sebuah kursi. Pria jangkung itu duduk dengan membungkuk lagi. Putrinya tetap berdiri, pindah sedikit di belakang ayahnya. Wengao menatap gadis itu. “Aku akui kalau karangan itu tidak kuharapkan akan mendapat pujian seperti biasanya.”

    Lin Kuo tertawa, dengan nada menyenangkan. “Putriku menulis ci yang ada dalam dirinya. Kurasa suatu saat dia ingin mengatakannya padamu.”

    Like

  9. “Paduka penasihat, saya merasa terhormat kita bisa kembali bertemu,” sapa Lin Kuo. Dia memiliki suara yang ringan dan menyenangkan.
    “Justru saya yang merasa terhibur,” balas Wen Gao kaku, “kau telah menyemarakkan suasana rumah buangan di sini dengan kehadiranmu. Dan kau bersama…?”
    “Putri saya, penasihat. Dia bernama Shan. Saya telah lama berkeinginan untuk mengajaknya menyaksikan Festival Peony, dan saya memberanikan diri sekalian membawanya menemui paduka.”
    “Tidak perlu begitu sungkan. Kau diterima di sini, nak.” Wen Gao melempar senyum kali ini.
    Gadis itu tidak balas tersenyum; parasnya serius. “Suatu kehormatan bagi saya, paduka, bisa bertatap muka dengan seseorang yang berperanan besar terhadap naiknya martabat penulisan kidung akhir-akhir ini. Saya telah membaca esai paduka dalam wujud ci, dengan segala kelebihan dan pesonanya.”
    Xi Wen Gao terkejap. Ini sesuatu yang bagus, ujarnya dalam hati. Sesuatu yang layak disyukuri. Bahwa hidup ternyata masih bisa mengejutkanmu.
    Bahkan seandainya datang dari seorang pria, kata-kata barusan sudah pasti merupakan pertanda kepercayaan diri yang tinggi dalam memulai pembicaraan. Apalagi ini, seorang gadis. Wanita muda, yang jelas masih lajang, rambutnya dihiasi sekuntum peony, yang sebagian lagi berada digenggaman tangannya, dan wanita itu berdiri di tamannya, secara spesifik membicarakan hal tersebut dari semua yang pernah ia lakukan…
    Wen Gao duduk, setelah mempersilakan Lin Kuo. Laki-laki bertubuh tinggi itu duduk setelah sebelumnya membungkuk dalam. Anak gadisnya sendiri tetap berdiri, melangkah sedikit kebelakangnya. Wen Gao menatapnya saat berkata. “Harus kuakui bahwa esaiku bukan hal yang biasa dipuji kebanyakan orang.”
    Lin Kuo tertawa, menjelaskan kemudian, “Putriku juga menulis ci, penasihat. Saya pikir dia telah mempersiapkan apa yang ingin ia katakan padamu jauh-jauh hari.”

    Like

  10. “Tuan Penasihat, sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan anda lagi,” Lin kuo berkata dengan suara lembut dan menyenangkan.

    “sayalah yang merasa terhormat,” Kata Wen Gao dengan formal, “karena anda telah memberkahi rumah pengasingan yang menyedihkan ini dengan kehadiran Anda yang terhormat dan ditemani oleh….?

    “Putri saya, Tuan Penasihat. Namanya Shan. Saya sudah lama ingin memperlihatkan padanya Festival Peony, dan justru dianggap untuk membawanya bertemu dengan anda, tuanku”

    tidak ada anggapan apapun samasekali. Kau dipersilahkan, nak” Ia kini tersenyum.

    Gadis itu tidak membalas senyumnya; Wajahnya waspada. “Ini merupakan suatu kehormatan bagi saya, Tuan, berada di hadapan pria yang berperan dalam mengangkat status lagu-lagu yang telah dibuat di zaman kami. Saya telah membaca esai Anda dalam bentuk ci, dan mengambil pelajaran dan pencerahan. ”

    Xi Wengao berkedip. Ini adalah hal yang baik, dia berkata pada dirinya lagi. Hal yang harus diingat, bahwa hidup masih bisa memberimu kejutan.

    Bahkan dari seorang pria, kata-kata tersebut terdengar begitu yakin, sesuatu yang sangat percaya diri dikatakan sebagai komentar pertama. Ia tentu saja adalah seorang gadis. Seorang wanita muda, jelas belum menikah, sebuah peony di rambutnya, dan yang lain di tangannya, dan gadis itu berdiri di kebunnya, menetapkan bahwa di antara semua yang telah ia lakukan….

    Ia duduk, menunjukan Lin Kuo ke sebuah kursi, lelaki tinggi itu duduk dengan membungkuk. Putrinya tetap berdiri dan berpindah ke belakang ayahnya sedikit. Wengao melihatnya. “Saya akui bahwa esai bukanlah hal yang biasanya saya harapkan untuk diberi penghormatan.”

    Lin Kuo tertawa ramah. “Dia menulis ci nya sendiri, Tuan Penasihat. Saya menduga dia telah lama ingin mengatakan hal ini pada anda”

    Like

  11. Konselor, suatu kehormatan bagi saya untuk bertemu Anda lagi,” ujar Lin Kuo. Suaranya ringan dan ramah.

    “Suatu kehormatan bagi saya,” sergah Wen Gao dengan sopan, “karena Anda memberkati rumah singgah menyedihkan ini dengan kehadiran Anda, dan membawa serta…?”

    “Putri saya, Konselor. Namanya Shan. Saya telah lama berharap bisa menunjukkan Festival Peony padanya dan menduga bisa mengajaknya bertemu dengan Anda.”

    “Tidak terduga sebelumnya. Selamat datang, Nak.” Wen Gao tersenyum kali ini.

    Shan tidak membalas senyumnya; ia memasang ekspresi hati-hati. “Merupakan sebuah keistimewaan bagi saya, Tuan, bisa bertemu dengan lelaki yang berperan penting mengangkat status lagu-lagu tertulis pada masa kami. Saya telah membaca esai Anda dalam bentuk ci, dan memperoleh keuntungan serta pemahaman.”

    Xi Wengao mengejapkan mata. Ini adalah hal yang bagus, ujarnya kepada diri sendiri. Sesuatu yang patut dihargai. Bahwa hidup masih bisa memberimu kejutan.

    Bahkan dari seorang pria, kata-kata itu akan jadi komentar pertama yang meyakinkan dan penuh percaya diri untuk diucapkan. Ini, tentu saja, berasal dari seorang perempuan. Perempuan muda, jelas masih lajang, setangkai peony terselip di rambutnya, setangkai lagi di genggaman tangannya, dan ia berdiri di taman Wen Gao, merujuk karyanya tersebut di antara semua yang telah ia ciptakan

    Ia duduk, mengisyaratkan Lin Kuo melakukan hal yang sama. Lin Kuo yang bertubuh tinggi membungkukkan tubuh dan duduk. Anak perempuannya tetap berdiri, bergeser sedikit di belakangnya. Wengao memandangnya. “Saya harus akui bahwa esai bukanlah karya yang biasanya saya harapkan untuk dipuji.”

    Lin Kuo tertawa dengan sabar. “Shan juga menulis ci, Konselor. Saya menduga ia telah lama ingin mengatakan hal ini pada Anda.”

    Liked by 1 person

  12. Dear Mba Femmy,

    Aku mau ikut latihan penerjemahannya yaaa 🙂 Berikut hasil terjemahan aku…
    ________________________________
    Konselor, sungguh suatu kehormatan besar dapat bertemu dengan Anda lagi,” ujar Lin Kuo. Suaranya ringan dan menyenangkan.

    “Kehormatan itu sesungguhnya milikku,” Wengao berkata resmi, “karena Anda telah menyemarakkan rumah murung si terasing ini dengan kedatangan pria terhormat seperti Anda. Dan membawa…?”

    “Putriku, Konselor. Namanya Shan. Aku telah lama ingin memperlihatkan Festival Peony padanya, dan memberanikan diri membawanya denganku untuk bertemu Yang Mulia.”

    “Aku sama sekali tidak keberatan. Selamat datang, Nak.” Wengao tersenyum kali ini.

    Shan tidak membalas senyuman itu; wajahnya tampak serius. “Suatu kehormatan bagiku, Tuan, untuk bisa berada di hadapan pria yang berperan sangat penting dalam mengangkat status puisi tertulis saat ini. Aku telah membaca esai Anda tentang bentuk ci, mengambil pelajaran dan pencerahan darinya.”

    Xi Wengao berkedip. Ini adalah sesuatu yang elok, dia berkata pada dirinya sendiri lagi. Sesuatu yang harus dihargai. Bahwa hidup masih dapat memberimu kejutan.

    Bahkan jika berasal dari seorang pria pun, kata-kata itu sudah dipastikan, menyatakan kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk diucapkan di pertemuan pertama. Ini adalah, tentu saja, seorang gadis. Seorang wanita muda, jelas-jelas belum menikah, dengan bunga peony di rambutnya, satu lagi di tangannya, dan dia berdiri di taman Wengao, menyatakan secara spesifik di antara semua yang telah Wengao lakukan…

    Wengao duduk, mempersilakan Lin Kuo duduk pula. Pria tinggi itu membungkuk dan duduk. Putrinya tetap berdiri, bergerak sedikit di belakang ayahnya. Wengao memandang Shan. “Aku akan mengakui bahwa kupikir esai bukanlah sesuatu yang umum untuk dihargai.”

    Lin Kuo tertawa ramah. “Dia juga menulis ci, Konselor. Aku pikir dia telah lama ingin mengatakan hal itu pada Anda.”
    _________________________________

    Sekian, terima kasih 🙂

    Like

  13. Penasihat, sungguh kehormatan bisa bertemu dengan Anda lagi,” ujar Lin Kuo. Suaranya terdengar lembut dan ramah.

    “Kehormatan bagiku,” jawab Wen Gao dengan formal, “kau telah menyemarakkan rumah yang terpencil ini dengan kehadiranmu yang mulia. Dan kau mengajak…?”

    “Putri hamba, penasihat. Nama dia Shan. Sudah lama hamba ingin mengajaknya ke Festival Bunga Peony, dan dengan lancang mengajaknya kemari untuk bertemu Yang Mulia.”

    “Sama sekali tidak lancang. Kau selalu diterima, nak.” Kali ini Wengao tersenyum.

    Gadis itu tidak membalas senyumnya; wajahnya penuh minat. “Adalah kehormatan bagi hamba, tuan, bisa berada di hadapan pria yang meninggikan status dari lagu yang tertulis di zaman kita. Hamba telah membaca esai Anda tentang bentuk ci, dan mendapat faedah serta pencerahan.”

    Xi Wengao mengejap. Ini bagus, ujarnya kepada diri sendiri. Hal yang berharga. Bahwa kehidupan masih menyimpan kejutan untukmu.

    Kalimat tersebut membutuhkan keyakinan yang amat sangat untuk diucapkan sebagai komentar pembuka, bahkan dari seorang pria. Dan yang mengucapkannya adalah, tentu saja, seorang gadis. Wanita muda yang jelas belum menikah, di rambutnya tersemat sekuntum bunga peoni juga di tangannya, dan dia berdiri di kebunnya menguraikan hal itu dari semua hal yang telah dia kerjakan…

    Dia lalu duduk dan mengisyaratkan Lin Kuo agar duduk di kursi. Lelaki yang tinggi itu duduk setelah sebelumnya membungkukkan badan memberi hormat. Putrinya tetap berdiri, hanya pindah sedikit ke belakangnya. Wengao memandang gadis itu. “Aku akui, essai biasanya bukan hal yang aku harapkan akan mendapatkan pengakuan.”

    Lin Kuo tertawa, memanjakan. “Dia sendiri menulis tentang ci, penasihat. Kurasa sejak lama dia sudah ingin mengatakan hal ini pada Anda.”

    Liked by 1 person

  14. Dear para admin, terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk latihan dan menyisihkan waktu untuk memeriksa dan memberikan komentar.
    Selamat berakhir pekan. 🙂

    Penasehat, sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda lagi,” kata Lin Kuo. Dia memiliki suara yang ringan dan menyenangkan.

    “Sayalah yang merasa terhormat,” kata Wen Gao dengan resmi, “dengan kehadiran orang terpandang seperti Anda di gubuk orang pengasingan yang menyedihkan seperti saya. Dan membawa…?”

    “Putriku, penasehat. Namanya Shan. Sudah sejak lama saya ingin menunjukkan Festival Bunga Peoni kepadanya dan saya sudah lancang membawanya bersamaku untuk berjumpa dengan orang hebat seperti Anda.”

    “Tidak lancang sama sekali. Selamat datang, nak.” Wen Gao berkata sembari tersenyum.

    Anak gadis itu tidak membalas senyumannya. Mukanya terlihat waspada. “Suatu kehormatan bagiku, Tuan, berada di hadapan orang yang berpengaruh dalam meningkatkan status lagu-lagu yang ditulis di era ini. Saya sudah membaca karangan Anda mengenai puisi berbentuk ci, dengan keuntungan dan pengertian.

    Xi Wengao berkedip. “Ini bagus,” katanya pada diri sendirinya lagi. Sesuatu untuk dikenang. Bahwa hidup masih saja bisa mengejutkanmu.

    Bahkan bila seorang pria yang mengucapkan pernyataan pembuka seperti itu, sudah bisa dipastikan, adalah hal yang sangat meyakinkan untuk dikatakan. Apalagi komentar tersebut diucapkan oleh seorang gadis muda yang jelas-jelas masih lajang. Seorang gadis dengan sekuntum bunga peoni di rambut dan juga di tangannya, berdiri di taman pria itu, mengatakan dengan tepat apa saja yang pria itu sudah lakukan…

    Pria itu duduk, mengisyaratkan Lin Kuo untuk duduk. Pria tinggi tersebut membungkuk sebelum duduk. Si anak gadis tetap berdiri, berpindah sedikit ke belakang ayahnya. Wengao melihat anak gadis itu. “Saya akui saya biasanya jarang mendapat pujian untuk karangan saya.

    Lin Kuo tertawa puas. “Shan juga menulis ci, penasehat. Saya rasa dia sudah ingin memberi tahu Anda selama ini.”

    Like

  15. Bapak dewan, sungguh kehormatan yang sangat besar bagi saya untuk bertemu Anda kembali,” kata Lin Kuo. Suaranya halus dan enak didengar.

    “Saya yang merasa terhormat,” kata Wen Gao dengan nada formal, “karena orang terpandang seperti Anda mengunjungi rumah orang buangan yang murung ini. Dan membawa…?”

    “Putri saya, Pak. Namanya Shan. Sudah lama saya ingin menunjukkan Festival Peony padanya, karenanya saya lancang membawanya bertemu Anda yang terhormat.”

    “Tidak lancang sama sekali. Senang bertemu denganmu, nak.” Kali ini dia tersenyum.

    Gadis itu tidak tersenyum balik; ekspresinya waspada. “Suatu kehormatan bagi saya, Pak, berada di hadapan orang yang berjasa dalam mengangkat status lagu-lagu yang dikarang di zaman kita. Saya telah membaca esai Anda tentang puisi ci, yang bermanfaat dan mencerahkan.”

    Xi Wengao mengerjap. Ini hal yang baik, katanya lagi pada diri sendiri. Perlu diingat-ingat. Bahwa hidup masih bisa mengejutkanmu.

    Bahkan jika dikatakan oleh seorang pria, komentar itu bisa dibilang terlalu yakin untuk ukuran komentar pertama. Sedangkan ini dikatakan oleh, tentu saja, seorang gadis. Perempuan muda, yang jelas belum menikah, dengan sematan bunga peony di rambutnya, bunga peony pula di tangannya, dan ia berdiri di kebun Wen Gao, menyoroti esai itu di antara semua hasil karyanya

    Wen Gao duduk, mengisyaratkan kursi untuk Lin Kuo. Pria jangkung itu membungkuk hormat lalu duduk. Putrinya tetap berdiri, hanya bergeser sedikit di belakang sang ayah. Wen Gao menatapnya. “Sejujurnya saya tidak menyangka bahwa esai itu yang akan dipuji.”

    Lin Kuo tertawa ringan. “Dia sendiri juga menulis ci, dewan. Sepertinya sudah sejak tadi dia ingin mengatakan ini kepada Anda.”

    Penerjemah: Fatiya Mufinnah

    Like

  16. Mbak Femmy, salam kenal. Berikut ini saya sampaikan hasil latihan terjemahan saya, mohon feed back nya, semoga dapat memperkaya wawasan saya. Thanx and Regards,
    Max Mario

    Penasihat, merupakan kehormatan bagi saya berjumpa kembali dengan anda,” ujar Lin Kuo. Lin Kuo memiliki suara yang lembut dan menyenangkan.

    “Ini benar-benar merupakan kehormatan bagiku,” Wen Gao berkata secara formal, “bahwa anda menghargai seorang yang terasing dari kediamannya dengan kehadiran anda yang terhormat. Dan membawa ……?

    “Anak perempuan saya, bapak penasihat. Ia bernama Shan. Saya sudah lama berkeinginan untuk memperlihatkan padanya festival bunga Peony, dan saya memberanikan diri membawa anak saya ini menemui yang mulia.

    “Dengan senang hati, engkau dipersilahkan masuk nak.” Sang penasihat berkata sambil tersenyum.

    Anak perempuan itu tidak membalas senyumannya; dengan ekspresi wajah yang waspada anak itu berkata, “Merupakan kehormatan bagi saya, tuan, untuk hadir di acara seseorang yang menolong meningkatkan nilai lagu-lagu yang digubah di masa kami. Saya beruntung sudah membaca karangan tuan yang berhiasan pada format ci.

    Xi Wengao mengejapkan matanya. Ini merupakan sesuatu yang baik, dia kembali berkata pada dirinya sendiri.Satu hal yang perlu diingat adalah kehidupan masih dapat memberi kejutan padamu.

    Walaupun kata-kata itu mungkin sudah ditegaskan oleh seorang lelaki, sesuatu hal yang sangat diyakini untuk digunakan sebagai keterangan pertama. Ini tentu saja tentang seorang gadis. Seorang wanita muda, belum menikah, dengan sekuntum bunga peony di rambutnya, yang lain ditangannya, dan gadis itu berdiri di taman sang pria, sambil memerincikan semua yang telah dilakukannya……..

    Lelaki itu kemudian duduk, mengisyaratkan Lin Kuo untuk juga duduk. Pria jangkung itu duduk membungkuk. Putrinya tetap berdiri, bergeser sedikit kebelakangnya. Wengao memperhatikan anak perempuan itu. “Saya mengakui bahwa risalah itu merupakan sesuatu yang di luar harapan saya untuk dipuji.

    Lin Kuo kemudian tertawa pelan sambil berkata, Anak perempuan ini menulis ci nya sendiri. Saya kira dia berkeinginan untuk suatu waktu mengatakannya kepada anda.”

    Like

  17.  “Yang Mulia Anggota Majelis, merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bertemu lagi dengan Anda,” sapa Lin Kuo. Suaranya ringan dan lembut.

     “Justru Aku yang merasa terhormat akan kehadiranmu yang telah ikut dalam pengasingan menyedihkan ini, kata Wen Gao dengan formal. “Dan siapa yang Kau ajak…?”

     “Putri saya, Yang Mulia Anggota Majelis. Namanya Shan. Sejak dahulu saya berharap bisa mengajaknya ke Perayaan Peony, dan telah lancang membawa sertanya untuk bertemu Yang Mulia.”

     “Sama sekali tidak. Dengan senang hati nak.” Kali ini Wen Gao tersenyum.

    Shan tak membalas senyuman itu; raut wajah yang awas. “Merupakan suatu kehormatan bagi saya, Tuan, berada di hadapan seseorang yang sangat berjasa dalam meningkatkan kedudukan lagu-lagu tertulis pada era kita. Saya telah membaca esai Anda mengenai bentuk ci, dengan keuntungan dan penjelasan.” Xi Wengao berkedip. Hal yang bagus, katanya pada diri sendiri. Sesuatu yang patut dihargai di mana hidup masih bisa memberimu kejutan.

    Suatu kepercayaan diri yang sangat tinggi sebagai kesan pertama, bahkan jika kata-kata itu pun dari seorang laki-laki, harus dipastikan terlebih dahulu. Namun, kata-kata itu tentunya berasal dari seorang perempuan. Seorang wanita muda, yang jelas-jelas belum menikah, dengan sebuah peony di rambutnya, yang lain di tangannya, dan ia berdiri di taman Wen Gao, menetapkan bahwa dari semua yang telah ia lakukan…

    Ia duduk, mengarahkan Lin Kuo pada sebuah kursi. Pria tinggi itu duduk dan yang satunya lagi berlutut. Anak perempuannya itu tetap berdiri, bergeser sedikit di belakangnya. Wen Gao memandangnya. “Akan kuakui bahwa esai itu bukanlah yang biasanya kuharapkan untuk diapresiasi.”

    Lin Kuo tertawa dengan ramah. “Dia menulis sendiri puisi ci, Yang Mulia Anggota Majelis. Saya menduga kalau dia ingin mengatakan ini kepada Anda selama beberapa waktu.

    Liked by 1 person

Comments are closed.