Ulasan 6 – Kalimat 2

Heavy-footed in high heels.

Langkah berat dengan sepatu hak tinggi.

Diksi: Menurut kamus, heavy-footed berarti “having a ponderous, lumbering gait.” Ini bisa langsung diterjemahkan menjadi langkah berat karena saya rasa maknanya mirip. Beberapa peserta latihan memilih memperjelas makna itu, misalnya menjadi pelan dan susah payah atau lamban, dan saya kira ini bisa saja dilakukan. Alternatif lain seperti kikuk atau pelan dan mantap mungkin kurang sesuai dengan makna yang dimaksud.

Perhatikan bahwa heavy di sini merujuk pada langkah, bukan kaki atau sepatunya yang berat.

Diksi: Kata in bisa diterjemahkan menjadi dalam atau dengan, atau kaki bersepatu. menggunakan  Saya rasa tidak lazim menggunakan kata di atas untuk menggambarkan alas kaki yang dipakai seseorang. Saya rasa kata ini kurang tepat jika diterjemahkan menjadi karena, karena rasanya memakai sepatu berhak tinggi tidak serta-merta menjadikan langkah kita berat.

Ulasan 6 – Kalimat 1

I can hear the sound of her crunching up the path.

Aku mendengar derak langkahnya di jalan setapak berkerikil.

Diksi: Saya melihat beberapa peserta latihan tidak menerjemahkan kata crunch. Namun, dalam menerjemahkan, kita harus ingat bahwa pengarang memilih diksi tertentu untuk menghasilkan efek tertentu bagi pembaca, dan kita harus mereproduksi efek yang sama bagi pembaca terjemahan kita. Menurut kamus, “if you crunch across a surface made of very small stones, you move across it causing it to make a crunching noise.”

Untuk kasus ini, pengarang memberi deskripsi suara, deskripsi jenis jalan, dan deskripsi gerakan tokoh. Untuk efek suara, kita bisa menggunakan kata derak, kertak, gerisik, kersik. Efek suara ini kurang tepat jika diterjemahkan sebagai nyaring (kurang spesifik jenis bunyinya), derap (tidak mengesankan jalan kerikil), atau menghentak.

Untuk jenis jalan, dalam bahasa Inggris, kata crunch sudah menggambarkan jalan seperti apa yang dilalui oleh tokoh ini. Sebagai penerjemah, kita dapat memikirkan dan memutuskan, apakah dari kata derak pembaca Indonesia sudah dapat membayangkan bahwa jalan yang dilalui ini adalah jalan kerikil? Kalau kita merasa kata derak belum jelas, kita bisa menambahkan deskripsi jalan. Kalau kita merasa pembaca pasti sudah bisa membayangkan, tidak perlu menambahkan keterangan lagi.

Untuk gerakan tokoh, kita bisa menyimpulkan bahwa bunyi derak pada jalan kerikil ini ditimbulkan karena tokoh ini berjalan di situ. Jadi, tidak bisa diterjemahkan sebagai pijakan, menghancurkan.

Makna kata: Perhatikan bahwa kata up bisa berarti macam-macam, tidak selalu naik. Menurut kamus, “if you go up something such as a road or river, you go along it.” Jadi, kata up di sini bukan berarti mendaki atau menaiki. Kata ini juga tidak bisa diterjemahkan menjadi menuju. Kata ini bisa diterjemahkan menjadi di, sepanjang, melewati, menyusuri, menelusuri

Diksi: Kata path sebaiknya diterjemahkan sebagai jalan setapak atau jalan masuk karena dari konteks cerita, kita tahu bahwa jalan ini merupakan jalan setapak dari tepi jalan besar ke pintu depan rumah. Kata ini kurang tepat diterjemahkan sebagai jalan (kurang spesifik), jalan kecil (bisa disalahartikan sebagai gang), setapak (harus didahului kata jalan), atau lintasan.

Ulasan 6 – Pendahuluan

Teman-teman, maaf sekali bahwa ulasan yang keenam ini terlambat ditayangkan. Karena kesibukan dalam bulan-bulan terakhir ini, sulit sekali menemukan satu hari kosong untuk menulis ulasan. Daripada tidak tayang-tayang, akhirnya saya memutuskan untuk mencicil saja ulasan ini, mudah-mudahan bisa mengulas satu kalimat per hari.

Hasil terjemahan yang masuk juga belum sempat saya tandai dengan huruf tebal, kecuali beberapa yang kebetulan masuk saat saya ada waktu senggang. Namun, saya kira dengan membaca ulasan, teman-teman bisa menilai sendiri terjemahan masing-masing.

Mudah-mudahan penayangan ulasan yang dicicil ini bisa saya lakukan dengan konsisten, lalu kita lanjutkan dengan bahan latihan baru setelah ulasan selesai.

Latihan 6

Silakan terjemahkan teks di bawah ini dan salin di bagian komentar paling lambat tanggal 14 April, pukul 11.59 siang. Jangan lupa melihat kamus.

I can hear the sound of her crunching up the path. Heavy-footed in high heels. She’s almost at the door, hesitating and smoothing her hair out of her face. Nice outfit: jacket with big buttons, decent dress underneath, and glasses perched on her head. Not a Jehovah’s Witness or from the Labour party. Must be a reporter, but not the usual. She’s my second one today—fourth this week, and it’s only Wednesday. I bet she says, “I’m sorry to bother you at such a difficult time.” They all say that and put on that stupid face. Like they care.

I’m going to wait to see if she rings twice. The man this morning didn’t. Some are obviously bored to death with trying. They leave as soon as they take their finger off the bell, marching back down the path as fast as they can, into their cars and away. They can tell their bosses they knocked on the door but I wasn’t there. Pathetic

She rings twice. Then knocks loudly in that rap-rap-rappity-rap way. Like a policeman. She sees me looking through the gap at the side of my sheer curtains and smiles this big smile. A Hollywood smile, my mum used to say. Then she knocks again.

When I open the door, she hands me the bottle of milk from the doorstep and says, “You don’t want to leave that out. It’ll spoil. Shall I come in? Have you got the kettle on?”

I can’t breathe, let alone speak. She smiles again, head on one side. “I’m Kate,” she says. “Kate Waters, a reporter from the Daily Post.”

270 kata, diambil dari The Widow karya Fiona Barton